Discipline Lesson #2

0
COM
Lokasi : Ace Hardware Kota Kasablanka

Lagi lewat area mainan di Ace, ada bagian sepeda2an gitu plus seluncuran, ayunan dan teman2. Udah lewat 5 meter Lila tiba2 nangis2 pingin naik mobil (mobilan) ijo. Gw ga mau, babenya ga mau tapi Lila nangis terus.

"Oke Kak, berhenti dulu nangisnya."
Masih nangis.
"Nah.. Ibu hitung sampai 10 ya. Kalau sampai 10 Kakak belum berhenti nangis, kita pulang aja."
Satuuu..
Duaaaa...Ayo berhitung sama Ibu. Habis dua berapa? *tetep nangis dong ah :) *
Tiiigaaaaaa...Yuk, udah dulu nangisnya.
Terus aja nangis sambil bilang, "Mobil ijoooooooo..." :D
Empaaattt...
Limaaaaa...
Ennn ... ??? Naaaammmm ..
Berhenti loh nangisnya hehehe

Dan krn dia berhenti sebelum 10, gw mundur ke belakang, Lila boleh main mobil2an ijo itu for 5 minutes. Ofkors, habis 5 menit itu si anak lucu mana mau ngaku kalo kita punya deal 5 menit aja. Pas gw ajak cabut, mulai mimbik2 mau mewek.

"Nah, kan tadi ibu bilang kakak mainnya 5 menit aja."

Nangis bentar abis itu mau deh diajak pergi.

The Last Pull

0
COM
That's it, boss.


So I guess this is the last pull. Submitted my resignation letter to HR, resigning per Jan 31, taking my leave starting Jan 9.

Discipline Lesson #1

0
COM
Prinsip gw dalam membentuk anak adalah petuah dari mommy professional, the mother of three amazing princes, Mami Leny, Yang nasihatnya juga diturunkan dari nyokapnya. Kurang lebihnya kayak gini,
Anak itu harus dibentuk selagi dia masih muda. Jadi jangan beralasan, "masih kecil, belum ngerti". Bagaikan pohon, batang mudanya masih bisa dibengkokkan dengan lentur. Tapi jika ia dibentuk saat sudah besar, maka pohon itu akan patah.
I cannot agree more.

Yang ga agree adalah nyokap gw. Yang selalu kalau gw lagi mendisiplinkan Lila akan muncul sebagai hero. Kebanyakan oma/ nenek/ eyang juga gitu sih kelakuannya. Gw paham anak masih explore dengan emosinya. Gw bolehin Lila marah, teriak, pukul dsb nya buat menyalurkan emosi dia. Selamaaa.. itu ga ditujukan ke orang. Gw, bapaknya, pembantu, adeknya, siapapun. Gw juga unlike many parents, ga haram buat mukul anak. Tapi bukan mukul yang nyiksa gitu ya. Dan ini pasti sudah eskalasi kesekian kalinya dia ga dengerin larangan gw. Yang jelas, gw hanya mukul saat gw ga emosi.

Kayak kmrn waktu ke Malang. Lila mukul omanya. Trus nangis teriak2 gara2 ga mau diturunin dari wastafel. Dua bulan ini Lila emang hobi banget nangis sambil teriak njerit yang screeching gitu. Tau kan yg teriaknya bisa bikin tenggorokan radang? Yang bunyinya kayak garuk kuku di papan tulis? Nah, dia hobi gitu lately, teriak - teriak mulu, kadang +pukul +tendang. Itu udah ditegur sampe dimarahin berkali2 juga. Jadi pas gw liat dia teriak+pukul omanya, langsung gw turunin dari wastafel, gw taro di pojok pintu gw bilang, "Boleh nangis, tapi ga boleh teriak"

Ga berhenti. "Boleh nangis tapi ga teriak."
Ganti logika. "Boleh nangis. Ga boleh teriak."
"Ga boleh teriak."
"No, ga teriak."
Masiihh teriak2 sambil nangis.
Gw pukul pipinya.
"Ga teriak."
Masih teriak.
"Ga teriak."
Gw pukul lagi pipinya.
"Ayo teriak lagi. Kalau teriak ibu pukul lagi."
Lila berhenti teriak tapi masih nangis. "Iya boleh nangis, tapi ga teriak." Masih nangis. Gw kasih kok spare buat dia belajar menenangkan dirinya sendiri. Setelag gw rasa cukup baru gw tenangkan.
"Udah kak nangisnya.. Udah yaa.. Kakak mandi yuk.. boleh deh berenang di bathtub."
Dan segeralah dia teralihkan.

Tadi pagi sebelum brkt ke kantor Lila mukul2 kepala Panji. Gw suruh minta maaf dia ga mau, teriak2 nangis. Gw bawa ke kamar. Gw kalau mau marahin Lila pasti gw bawa ngumpet ke tempat yg lebih sepi.

Gw tanya, "Kakak tadi pukul adek?"
Iya, katanya. "Kenapa pukul adek?"
Dia ga bisa jawab. Mungkin juga belum bisa reasoningnya.
Bbrp kali gw suruh minta maaf dia ga mau. Gw bilang, "Oke, kalau kakak ga mau minta maaf, ibu hukum ya?" Kayaknya dia ga ngerti apa itu "hukum" jadi dia sempat bengong. "Mau minta maaf ga?" Nggak, katanya. "Ibu hukum ya?" Trus gw keluarin koper. Noooo.. bukan mau gw kunciin ke koper kok hahahaa.. Gw mau kasih dia time-out dipojokan meja kerja. "Oke, terakhir kali, mau minta maaf sama adek?" Iyah, mau.

Gw bawa keluar kamar trus dia blg, "Maf adekk.." trus adeknya dipeluk, dicium. See, ga semua mesti main pukul juga. Kalau Ibu Ratih Ibrahim baca ini aku pasti diomelin krn sebenernya kita jadi mengajarkan prilaku "memukul" itu. Hopefully it's not something I will overuse. Gw sarankan kelakuan gw ini jangan ditiru yah :) Jgn lupa it's sometimes, kita ga bisa membedakan garis tipis antara mendisiplinkan anak versus memanjakan anak.

Anyway, habis minta maaf Lila peluk2 gw, trus minta dimandiin sama ibu. Abis dia telanjang, main air sendiri dengan senangnya (lupa tadi abis dimarahin). Gw overheard obrolan dia sama omanya.

"Tadi kakak nangis?"
"Iyah."
"Kakak, kakak kenapa tadi nangis?"
"Kakak cudih." *sedih*
"Kenapa kakak sedih?"
"Dimarahin ibu."
"Kakak tau nggak tadi kenapa dimarahin sama ibu?"
"Kakak pukul adek."
"Iya, ga boleh ya Kak pukul adek."
"Iya, ga boleh omaaa.."

That's it. The most important message. Dia tahu dia dimarahin krn melakukan hal yang salah: mukul adeknya.

My Precious

2
COM
I can read hundreds of full-on posts about Lila being an adorable big sis.  Seriously. I think she's amazing. amazing. amazing. Gw kasih contoh ya:
  • Lila main coret2an. Panji rempong pingin megang pensil juga dan mrk tengkurep berhadapan sambil Lila ngajarin Panji, "Dek.. dek.. gini loh gambar ikaannn." Padahal cuma urek2 doang hahaha *mana ikannyaaaaaaaa???*
  • I went to a date with my husband and bought a hoodie jacket for Lila. She loves those kinda jacket. So I went to Gap Kids at Pacific Place, bought her this grey and purple jacket. When we arrive home, I proudly announce to Lila that, "Kakak, ibu beliin kakak jaket loh." And without looking to the jacket, dengan muka concern dia tanya, "Buat adek mana Bu?" Aslik itu bener2 bikin gw tercenung, mengingatkan gw untuk selalu fair ke kedua anak gw. Joyful! Kids are so caring and pure right? *kata nisha*
Sungguh deh, ga sabar buat stay at home (but still making money) :D

Big Decision

0
COM
You know.. Kalo blm merit ditanya kapan merit. Udah merit ditanya kapan punya anak. Udah punya anak ditanya kapan nambah.. hadeehhh.. on and on ga beres2.

Soal nambah anak, I really think young couples in Indonesia/ Jakarta tepatnya mesti mikir mikiiirrr berulang kali. One child is a big decision, two is waaaaayyyyy bigger. Kenapa gw bilang gitu? Well, sebagai ibu2 yang punya anak udah 10 bulan ini, gw cukup bisa ngasih pandangan.

Repot yes? Iya lah, kecuali loe punya support system yang kuat. Either maid, babysitter, parents, in laws apapun itu yang memberi stabilitas buat anak2. Kalo loe di Jakarta cuma berdua dan ngandelin babysitter buat ngurus anak2, mendingan jangan nambah anak deh. Main reason gw adalah karena MAHAL. Bayangin loe mesti ngegaji bs 2 x 1,5 jt. Tambah maid mungkin. Belum lagi nambah biaya ngasih makan bedinde2 itu. Oke fine kalau mau titipin child care. Bok, sama aja loe kudu bayar  2 x 2 jt per buat child care doang. Masa sih gaji abis buat beginian doang???

Trus gw nyesel gitu punya Panji?

Hah? Gigi loe peyang! Ya nggak lah. Alhamdulillah gw punya support system yang bagus. Ada nyokap, mertua, adek2 gw, pembantu2 yang mayan bisa diandelin, daaaaaannnn.. gw punya opsi untuk berhenti kerja sementara buat fokus ngurus anak2. Opsi ini adalah sesuatu yg menurut gw MEWAH banget, karena ga semua org punya pilihan itu. Dan kenapa gw memilih memiliki anak2 serapat itu jaraknya? Agar mrk bisa tumbuh bersama. Once Panji sudah bisa jalan dan makan table food, kerepotan gw akan jauuuhhhhh berkurang.

Coba deh, yg mau tambah anak, pikir yang bener, kalo perlu 700 keliling.

Happy Day

0
COM
I've been busy busy busy.

Unlike certain people, I do not like my schedule to be filled with meetings. Unfortunately, that's what I got since becoming a Section Head a year ago. So when realizing I have a day OPEN on Thursday, I decided to take a leave. The plan is going to hospital for Lila's MMR and my IUD checkup and off course, some girl time with my Mikayla.

Overall, it's a happy happy day!
  • Woke up late, citrix went down. So I couldn't work from home as I planned to. Yeayy..
  • Started the route from 11 AM. Lila fell asleep immediately. Traffic was hell but I was grateful because it gave Lila 2 hours of nap. 
  • Arrived at Plaza Senayan, planned to look for Lila's hoodie jacket but to no avail. 
  • Bought 2 ounces of Famous Amos choco chips. Heaven.
  • Lunch at Sushi Tei.
  • Strolled to Coach, intended to buy an exclusive bag. It's 3 mill and I got the money but I just.. I just didn't have the heart to buy it. I guess I'm cheap kinda person hahaha ..
  • Went to Marks and Spencer and got .............. a SUN TAN stocking HAHAHA.. *kenapa gw seneng banget ya?* Well, because SUN TAN hadn't made to Indonesia in the last 5 freaking years. Natural Tan is just to bright for my skin tone. Oh, found another interesting color called Nutmeg. Let me see how it blends with my color in natural light.
  • Registered at RSPP, immediately admitted to Pediatric. Lila got her MMR and it's just IDR 91.900 *ga dicover asuransi soalnya* :D
  • Dokter Alwin's late *grrr..* Saw him at 5PM, everything's okay and we checked out. He had his bday on December 2nd.
  • I arrived at around 3PM in RSPP, checkout at around 6PM and I only paid IDR 2,000 for the parking ticket. It said I've only been parked for 39 minutes. I think it's their system glitch, but I just handed the money and stroll :)
  • Contrary to traffic news and info, our journey home was easy. Reached Tendean in 15 minutes from RSPP, we just needed like 75 minutes in total to reach home. NOT BAD AT ALL for after office hour traffic.
  • Lila fell asleep just 5 minutes before we arrived home.
  • Panji was sleeping too.
  • That's why I have the time to write this post.

Another Door Is (almost) Opening

4
COM
Tau kan gw pingin resign?

Nah, sebenernya dari kemarin kita tuh ragu2 gitu, "Cukup ga ya?" Secara gaji gw juga ga bisa dibilang kecil :) Jumlah pastinya ga usah disebut ya, yang jelas krn gw orang yang SANGAT BERSYUKUR, buat gw gaji gw itu ya itungannya gede hehehe. Tapi kita menguatkan diri, ini untuk kebaikan bersama.

Gw jujur aja ga ada bayangan firm soal bagaimana menghadapi hari2 single income. Bbrp langkah precautions sudah dilakukan, yaitu :
  1. Yang jelas gw udah nyadangin dana tabungan yang boleh dipake sepanjang tahun sampai kami bisa adjust dengan "hanya penghasilan suami"
  2. Rencana ganti mobil (upgrade) kami batalkan demi hukum. Padahal udah di booking fee, untuk cuma kena potong 200rb, pdhl udah sempet euforia tuh kmrn. Cuma yah alhamdulillah akal sehat masih bicara.
  3. Merumahkan pembantu. Kalau ada satu gpp, kalau dua mabok lah gw ngasih gaji + makannya. 
  4. Uang2 bonus kita berdua dikumpulin trus di depositoin/ tabung/ invest. 
  5. Refinancing cicilan rumah supaya lebih kecil.
Mbak pijet gw (yang udah resign) pernah ngasih tau kalau ada tai lalet di leher gw dan dia blg kalau itu berarti gw "dikasih tanggung jawab". Iya gw emang orangnya bertanggung jawab banget hahahaha.. Nggak ding. Sebenernya di bahu gw juga ada tai lalat dan ortu jaman dulu suka bilang kalau gw "dikasih beban". Kedua tai lalat itu ga salah. Gw memang punya beban dan tanggung jawab. Cuma krn Allah yang Maha Baik itu tidak pernah memberi cobaan yang melebihi apa yang mampu kita tanggung, DIA pasti sudah memberikan kekuatan dan kasih sayangnya buat menghadapi itu.

Demikian juga dengan beban dan tanggung jawab gw.

That's why dari sekeluarga gw, rejeki gw yang paling gede (bukan maksud buat sombong ya) tapi ya paham bahwa rejeki gw gede krn ada rejeki orang lain disitu, either parents, family dan Insya Allah kedepannya bisa mencapai lingkaran yang lebih luas lagi.

Krn itu juga, gw yakin Allah ga akan mengurangkan rejeki gw. Waktu gw mau resign gw ga bener2 tau apa yang mau gw kerjakan dan apa yang akan terjadi dua atau tiga tahun dari sekarang. Gw pingin ngambil sertifikasi SAP, kuliah S2 (wlpn ga ada duitnya hahaha), kursus jahit sampe kursus pijet. Gw biarin aja semuanya ngawang dulu krn gw yakin, Allah pasti membukakan jalan.

Kemarin sore, Pak Mung, komisaris di kantor lama gw dulu nelepon gw. Dia nanya kenapa program Performance Management System yang gw bikin skr ga bisa dipake. Dia pikir krn gw ngelock atau apalah itu. Padahal krn emang Delphi nya udah ga support. Dulu program2 di GED pake Delphi 5 semua, yang 5 taun yg lalu pun sebenernya udah outdated krn udah keluar Delphi 7. Jadi kalo skr programnya ga bisa dipake menurut gw wajar.

Jadi berhubung gw mau resign, gw offer untuk migrasikan semua program mrk ke technology yang lebih baru. Gw mau freelance. Ngoding dari rumah aja. Toh mrk kan operasionalnya 24 jam. Jadi kalaupun gw nongol jam 10 malem buat kerja ga akan jadi masalah. They agree, and we will discuss this thing mid Desember or early January. I'm looking forward.

See, one door closes, the other one opens.

Allah is Good!

A Little Thought On Parenting

0
COM
 Baru - baru ini gw memikirkan ulang statement, "My Kid My Rule". Yes tiap parent punya parenting style masing - masing. Ada yang strict ada yang santai, ada yang semua2 berbasis agama, ada yang nasionalis. Ada yang merasa penting untuk potty training, ada juga yg santai. Gw jadi berpikir, statement itu seharusny a ada batasnya.

Gw jadi kepikiran itu gara2 kmrn Lila main ke rumah YangTi nya dan ketemu Dana, sepupunya yang semakin kesini semakin mmm.. panas. Walaupun gw mencoba ga kesel, tetep aja kan kalo anak loe digebuk for no reason berulang kali mau ga mau loe ikutan pingin ngegaplok anak itu bukan? Semua ibu juga gitu kali. The parent once pernah ngajarin Dana, "Kalau kamu dipukul, pukul balik ya!" Which actually is a double edge words. Iya sih maksudnya supaya anak itu ga jadi sasaran bully2. Tapi ga menjadi lebih baik juga saat loe ngajarin anak loe untuk jadi org yang ngebully supaya ga dibully orang. Ajaran seperti itu seharusnya disampaikan saat logika anak sudah mulai terarah. That he's only allowed to do self defense, not to hurt other people.