Search

Inseminasi

0 comments

Gara2 Mbak Nelsi cerita kalau dia mau inseminasi aja taun depan, tanpa pikir panjang gw SMS dokter Alwin buat bilang, "Dok, kalau aku ga hamil bulan ini, aku insem aja ya bulan depan." The answers came right away karena dokter yang ngaku pengangguran itu lagi asyik mantengin sidang perdengaran rekaman KPK. "Ih, ngapain mesti cara yang begitu. Kan ada cara yang lebih enak dan mudah dikerjakan." Gubrak!!

Berapa Hargamu?

0 comments

Dari beberapa minggu yang lalu, Big Boss meminta kami di CIST secara bergiliran membuat email mengenai aspirasi, motivasi dsbnya. Hari ini, Rabu 4 Nopember adalah giliran gw. Sebenernya gw udah ngarang dari minggu lalu dan aslinya lebih panjang lagi tapi gw edit sebelum orang mulai sebel bacanya kelamaan. Rata2 temen termasuk big boss sendiri ngirimi e-mail yang diforward dari email motivasi seperti kisah burung elang yang bertransformasi. To be honest dari beberapa email sebelumnya, yang seperti ini gw males banget bacanya. So.. gw putuskan untuk mengirim my original production dan Alhamdulillah menuai banyak pujian. So.. enjoy!

Selama saya bergabung dengan SERA saya sering mendengar keluhan dari beragam orang, “Gaji saya kecil.” “Tidak cukup.” Atau lagu lain dengan nada yang sama. Ini juga diperkuat dengan eksodus besar2an yang terjadi di sekitar 2008 ke “tetangga sebelah”. Padahal kata Ligwina Hananto, bukan seberapa besar yang kita peroleh, tetapi berapa banyak yang kita keluarkan. Apakah kurangnya pendapatan ini merupakan kesalahan perusahaan yang tidak tepat menghargai kita? Atau kesalahan kita yang tidak mampu menghargai diri kita sendiri?

Sayangnya, si pengeluh ini seringkali menebarkan (ah, macam bakteri saja) keluhannya kepada teman yang lain, terutama pegawai baru *jadi ingat dua tahun yang lalu :D. Dulu saya hanya senyum – senyum, namanya juga anak baru jadi masih bisa dicicakin, kalau sekarang sudah jadi buaya. Lho, kok jadi Cicak vs Buaya dengan dalang Kingkong Pacitan? J. Saya tidak tahu berapa gaji dan kehidupan ekonomi si pengeluh ini, dan percayalah, bukan Cuma satu orang di SERA yang seperti ini. Saya menulis bukan untuk menghakimi mereka, itu bukan hak saya. Namun alangkah bijaksananya jika sebelum mengeluh mengenai gaji yang tidak memadai, bolehkah berkaca dan bertanya, “Berapa nilai saya sebenarnya?”

Nilai kita sebagai seorang karyawan ditentukan oleh keluasan (bukan lamanya) pengalaman, kedalaman pengetahuan dan kuatnya kualitas soft skill kita. Tentu kita tahu berapa harga yang kita inginkan untuk diri kita. Yang jadi pertanyaan, apakah pantas jika kita masih datang pukul 08:41 tetapi pulang pukul 16:59? Apakah pantas jika tidak ada satupun tugas yang diterima diselesaikan tepat waktu? Apakah pantas saat kualitas pekerjaan kita masih dibawah 100%?

Kata Omnya Spiderman, “within great power, comes greater responsibility.” Sayangnya dalam kehidupan nyata, greater responsibility seringkali tidak berbanding lurus dengan bigger appreciation. Pangkat Jenderal kok gaji Kopral? Inilah titik dimana orang mulai mengeluh. Saya pribadi, dari awal memasuki dunia kerja tidak pernah mengeluhkan soal gaji. PK saja saya pasrah, tanpa perlawanan, tiket tilang warna biru. Bukan karena saya tidak butuh gaji (Ya Ampun, KPR masih 9 tahun lagi!!). Ya, uang memang penting. Hanya saja, bagi saya pribadi, penghargaan bukan hanya berbentuk uang tetapi juga apresiasi dari atasan, sejawat maupun bawahan serta kesempatan untuk berkembang, belajar dan melangkah dan rasa nyaman serta aman dalam perlindungan yang diberikan perusahaan. Selain itu, saya memiliki satu prinsip yang saya pegang teguh sejak pertama saya memasuki dunia kerja.

Jika kamu merasa tidak cukup dihargai ditempat kerja kamu sekarang, carilah tempat lain dimana mereka mau menghargai kamu sesuai dengan yang kamu inginkan. Jika dengan segala keangkuhan kamu ternyata kamu tidak menemukan tempat itu, maka memang itulah harga terbaik kamu saat ini.

Misalnya saat ini gaji saya 17 juta (wow! Bercandanya keterlaluan nich), saya merasa dengan pengetahuan dan pengalaman saya, seharusnya saya digaji 50juta. Saat kita merasa kurang dihargai oleh perusahaan, maka ada dua kemungkinan. 1) Perusahaan meng-underestimate kualitas kita; atau 2) Kita yang meng-overrated diri kita sendiri. Daripada ribut – ribut mengeluh kesana kemari (ini mencoreng integritas) bahwa saya underpaid, saya lebih baik cari saja kerja ditempat lain yang mau menggaji saya 50juta. Kalau ada yang mau, berarti SERA memang kurang menghargai saya. Tapi kalau ternyata tidak ada, ya memang Cuma 17juta itulah harga saya. Jika Anda merasa perusahaan kurang menghargai Anda, cobalah test pasar dengan mengikuti proses rekruitmen. Lihatlah, apakah sudah tepat perusahaan menghargai Anda. Mohon maaf, ini hanya ilustrasi, bukan ajakan untuk pindah kerja lho J

Gertrude Ederle, adalah perenang wanita pertama yang mampu menyeberangi Selat Inggris. Ia gagal dalam usahanya yang pertama. Ketika ditanya wartawan, ia menjawab, “Sangat tidak nyaman berenang dalam cuaca berkabut. Bukan karena saya lelah atau udara yang begitu dingin. Tetapi kabut itu membuat saya tidak dapat melihat daratan. Saya kehilangan motivasi.” Gertrude tidak dapat melihat tujuannya. Tahun berikutnya saat ia mencoba lagi, cuaca cerah dan ia berhasil menyeberangi Selat Inggris. Sejujurnya, sesekali saya masih berkunjung ke situs pencari kerja. Bukan buat mencari pekerjaan, tetapi Saya akan menemukan sebuah pekerjaan idaman lalu saya baca satu persatu persyaratan di lowongan itu. Dari situ, saya mendata knowledge dan skill apa saja yang harus saya miliki agar suatu hari nanti saya bisa memiliki kualitas yang mumpuni. Saya harus bisa melihat tujuan saya.

Kalau kita mau sampai ke posisi 50juta itu (atau ada yang sudah sampai disana??), berarti kita harus berani meningkatkan value kita. Apakah kita mau belajar? Memperdalam pengetahuan kita, menjaga integritas, menjamin kepuasan customer, berani melangkah keluar zona nyaman kita, mengambil resiko, melakukan ekspansi pengetahuan baru, menjalin hubungan baik dengan stakeholders. Maukah kita melakukan itu semua? Akhirul kata, ingatlah, bahwa value kita sebagai karyawan, KITA SENDIRI YANG MENENTUKAN.

Jadi.. Berapa Anda ingin dihargai?


PS:
1. Artikel ini setengah fiktif. Mohon maaf, jika terdapat kesamaan nama, kejadian maupun besarnya gaji, itu hanyalah kebetulan semata.
2. Pertanyaan saya yang terakhir, sama sekali tidak memiliki keterkaitan dengan dunia prostitusi.

Why Singapore?

0 comments

Masih ga ngerti why people love to Singapore so much? Ada temen kantor malah bilang, "gw dah dua kali kesana ga bosen2 loh. Pingin banget kesana lagi." Sementara Myra yang udah tingga; kurleb 6 bulan disana pernah bilang, "Singapore is the most boring country ever." Gw ga benci Singapore, I like the city, I like enjoying the 1 dollar ice cream on orchard street. But it's a so so. Not that unique, not that exciting. Seriously, having experienced both countries, I'd rather go back to HCMC than Singapore. Paling parah adalah orang yang cinta banget sama KL. Despite cultural feud yang kita alami dengan mereka, gw ga melihat ada yang istimewa dengan KL. Petronas? Ugh.. Norak.

Penilaian Karya

0 comments

Setelah dikejar2 Syam untuk PK hari Rabu yang mana gw tolak karena itu jadwal gw buat nyetrika bareng Horatio Caine, akhirnya resched hari Selasa. Cuma gw udah menduga kalau Selasa bakalan sibuk banget secara Rabu sudah akan ada di kotanya Paman Ho. Akhirnya Jumat kita jadikan hari yang baik untuk PK. Gw sibuk, Syam lebih sibuk. Gw pinginnya cepet2, Syam maunya sesuai prosedur, pake acara konseling segala hehehe.. padahal gw udah bilang, "Sini deehh aku tanda tangan aja." Secara memang gw ga terlalu concern sama performance terukur. Performance mah pribadi aja kali ya :D

Syam cerita soal motivasi gw yang drop diawal gw hamil. Gw bilang, "Wah.. itu mah physical. Ibu2 hamil muda dimanapun bakalan mengalami kecapekan." Dokumentasi project dilengkapin. Dari 6 yang gw pegang tahun lalu 4 done, 2 cancel. Untung usernya gampil jadi lebih kooperatif so nilai gw lumayan banget dari situ. Selesai diponten, ternyata nilainya lumayan. Dikit lagi nyampe angka 4 kynya. We'll see deh, ada pengaruhnya nggak sih nilai yang meningkat dari tahun lalu ini?

Rabu, 21 Oktober 2009

0 comments

Minggu ini ga tau kenapa, di Yos Sudarso setiap hari ada razia motor di jalur cepet. Banyak banget deh yang ketangkep. Ya emang salah motor2nya juga sih, sampe naik2 ke jalur busway segala (biarpun jalur buswaynya belum jalan sih). Untung kmrn ga kenapa2. Baru nyadar pas pulang kl gw ga bawa dompet yg artinya gw ga bawa SIM.

Duuhhh.. deg2an nihh.. tujuh hari lagi kami berangkat ke Ho Chi Minh. Rasanya kami akan enjoy banget soalnya ini akan menjadi pengeluaran besar terakhir kami di pos anggaran Rekreasi setidaknya sampai dua tahun kedepan. Habis ini, fokus fokus fokus ke tabungan baby dan melengkapi rumah. Semuanya udah ada di kepala tinggal realisasinya aja. Tahun ini adalah tahun bersenang - senang dan melunasi hutang :D. Kartu kredit dan pinjaman koperasi buat nambah beli mobil awal tahun lalu. Uang bonus udah di plot buat bayar STNK & asuransi mobil. Beli perhiasan sedikit, nambah tabungan mapan, beli reksadana dan persiapan biaya melahirkan the baby-yet-to-come (didn't we tell you we picked her name already? hihihi). January will be clean with no hutang and no potongan gaji buat bayar cicilan. HARUS!

Pagi2 Syam SMS ngajakin PK ntar malem (after office hour). PK = Penilaian Karya. Itu lhoh, yang berhubungan dengan KPI. Gw menolak karena hari ini jadwal gw menyetrika bersama Horatio Caine :D Gw ajakin besok aja kalau mau. Yang jelas gw ga mau menunda jadwal nyetrika krn weekend ini pingin berkencan dengan bayi kami yang sedang sibuk main harpa dengan malaikat Ridwan (nah, kl ini penjaga surga). Sejujurnya, I care less about KPI. Gw ga tau pengaruhnya apa ke gw. Toh mau naik golongan juga gw belum jadwalnya. Naik jabatan? Jadi apa? Naik gaji? Hmm.. tiap tahun juga naik gaji 100rb. Belum berasa sih pengaruhnya apa. Bonus? Kynya so so aja. Seriously, gw lebih tertarik dengan knowledge value dari pekerjaan gw. Tapi kynya prinsip ini salah deh. So.. setiap kali PK dengan Syam, gw selalu bilang, "Terserah aja deh, Mas. Sini aku tandatangan." Huehehehe..

Seperti Apa?

0 comments

Gara2 baca blog nya Mbak Rustika Herlambang tentang Marty Natalegawa, ada satu bagian yang bikin langsung inget sama suami.

Persoalan cinta adalah hal lain yang menyenangkan untuknya. Seperti halnya dengan cita-citanya yang hanya satu, demikian pula kisah cintanya. Marty mengaku tak memiliki kisah percintaan selain kepada Sranya Bamrungphong; wanita Thailand, teman kuliahnya saat di LSE, sebagai wanita, cinta pertamanya dan dia berharap akan menjadi yang terakhir. Ia lalu mengenangkan suatu hari di Bulan April tahun 1985. “Saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Entah apa yang membuat saya jatuh cinta saya tidak tahu. Mungkin penampilan dia. Tapi semenjak itu, ternyata kami memiliki persamaan dan juga perbedaan pendapat yang saling menyatukan,”ungkapnya. Untuk menunjuk seperti apa wanita yang disukainya, ia tak banyak memberikan referensi. Kecuali,”Saya suka wanita seperti Sranya.” Lagi-lagi ia menyebutkan nama istri yang telah memberikan 3 anak untuknya: Annisa, Anantha dan Andreyka.

I've heard the bold line with many different tunes from my husband. Tadipun langsung SMS, "Baby... Perempuan seperti apa yang kamu sukai?" And the reply came right away..

Ngaca aja bb! Wikiki.. [plus emoticon LOVE nya Sony Ericsson]

Jadi, ga usah iri sama Bu Sranya kan? hihihi...

Update Dikit

0 comments

Sehubungan dengan entah kenapa jadi males banget ngapdet blog ini, yang mana tiap kali ngisi cuma kalimat2 pendek ga jelas, di update dikit deh blognya.

  • Hari Sabtu kemarin tanggal 17 kita pengajian 100 hari Anna (oh, betapa cepatnya waktu berlalu) di Cilandak. Alhamdulillah lancar.
  • Pulang pengajian mampir ke RSPP nengokin Bapak. Udah bobo tapi malah dibangunin sama Ibu, sempet ngobrol sebentar, ketemu sama Mbak. Mas lagi nyariin kerang dara rebus yang sedang diidamkan Bapak.
  • It's just 7 days away from Saigon.
  • Meeting besar CIST diadakan hari Jumat, big boss nyentil masalah kedisiplinan. Banyak yang suka tengbur dan mereferensikan beliau sering pulang jam 7 malam semasa jadi analis. Begitu dah jadi kadiv.. hmm.. [?]. Kemarin sama Andi diledekin gara2 pulang jam 5 ngejar kelas sexcercise dan dengan santai gw bilang, "Lho, aku kasih diskon kok. Aku kan dateng jam 7 pagi." Iya semenjak habis melahirkan gw jarang pulang malem. Dulu sih rajin banget, hampir tiap malem baru pulang jam 7-8. Sekarang capek, body ga kuat aja kl mesti pulang jam segitu terus. Yang penting kerjaan beres toh?
  • Sibuk banget sama project, especially order to cash nya HMU, apalagi skr gw megang modul SD-MM yang lumayan gede. Belum lagi ketambahan BI. Doohhh... But I love it. Setelah FI, BI dan skr ditambah SD dan MM, portfolio project gw semakin beragam aja :D
  • Lagi nyari2 situs belajar bahasa Vietnam. At least asal bisa bacanya aja (maksudnya pronunciation).
  • Ah ya.. siklus menstruasi udah balik lagi ke normal [5 hari].